Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player



 
     
 
 
News / Riuh Rendah Bisnis Komunikasi Parpol
 
 
 
Riuh Rendah Bisnis Komunikasi Parpol | 14 April 2009

Setiap menjelang Pemilu, industry kampanye parpol telah menjelma menjadi lahan super seksi yang diperebutkan puluhan pemain.
Bagaimana praktik kerja para konsultan (komunikasi) politik dalam mengantarkan kliennya menuju kursi kemenangan?

Ada yang berpendapat Indonesia (nyaris) luput dari sergapan krisis global lantaran diselamatkan oleh Pemilu. Untuk sementara ini pendapat tersebut dibenarkan oleh data belanja iklan yang dikeluarkan Nielsen Media Research pada Januari lalu. Data tersebut mengungkapkan bahwa selama 2008 Partai Politik (Parpol) maupun pemerintah telah menghabiskan Rp.2,2 triliun untuk kepentingan kampanye dan publikasi capaian kerja pemerintah di media televise (via iklan). Jumlah tersebut merupakan terbesar kedua setelah iklan telekomunikasi. Artinya besaran tersebut meningkat tajam sekitar 66% dibandingkan periode 2007 yang hanya Rp. 1,32 triliun.

Bisa dilihat, makin dekat waktu Pemilu, partai-partai politik juga makin jor-joran beriklan. Masih menurut data Nielsen, sepanjang bulan September-November tahun lalu partai Demokrat tidak sayang menggelontorkan dana Rp. 15,5 miliar per bulan. Disusul partai Gerindra yang berani belanja iklan sampai Rp.8 miliar per bulan. Diurutan ketiga Partai Golkar Rp. 5 miliar, lalu PKS Rp.2 miliar, dan kemudian PDI Perjuangan Rp. 1.5 miliar per bulan.

Maka tidak mengherankan kalau setiap menjelang Pemilu industry kampanye parpol menjelma menjadi lahan yang super seksi. Ada belasan puluhan pemain yang merubung sektor ini. Beberapa contoh yang bisa disebut antara lain hotline yang sukses mengantar Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden pada 2004. Adwork! Euro RSCG telah menangani iklan PDIP sejak pemilu 2004 dan masih berlangsung sampai saat ini. Golkar sekarang ditangani oleh Artek’n Partner. Fastcomm memegang kampanye Partai Keadilan Sejahtera dan Hanura. Blikomunikasi menangani pencitraan ketua umum PAN Sutrisno Bachir. Lembaga Survey Indonesia (LSI) sejak lama diketahui banyak mendapatkan pesanan riset dari beberapa partai, dan lain-lain. “Dalam situasi krisis seperti ini pastilah banyak menoleh ke komunikasi Parpol karena billing-nya memang lumayan besar”, Ujar Ipang Wahid pemilik Fastcomm.

Beberapa diantara pemain itu – Hotline, Fastcomm, Euro RSCG, Artek- merupakan agensi periklanan yang biasa menggarap komunikasi merek atau perusahaan. Sementara lainnya ada yang merupakan penjelmaan konsultan politik yang merambah ke strategi kampanye, bahkan ada pula yang asalnya lembaga survey semata. Namun dalam bahasa media, kini semuanya mengaku sebagai konsultan (komunikasi) politik.

Menurut Ipang Wahid, sebenarnya di Indonesia saat ini terdapat kerancuan antara konsultan politik dengan konsultan komunikasi politik. Secara positioning, tugas konsultan politik seharusnya adalah merumuskan “what to say” dari Parpol/Caleg. Sementara konsultan komunikasi politik berwenang untuk menerjemahkan “how to say”-nya. Namun perkembangan selanjutnya, konsultan politik pun akhirnya merambah ke sektor komunikasi yang dilakukan Fox Indonesia. Yah, siapa yang tidak ngiler melihat jor-joran rupiah yang menggelontor deras dari pundi-pundi puluhan partai politik?

Namun bagaimana sebenarnya step-step kerja mereka sebelum hasil karyanya muncul dalam bentuk iklan di media masa? Secara umum mereka mulai dengan polling di seluruh Indonesia. Polling itu berguna untuk memetakan posisi dan kondisi parpol bersangkutan. “Dari situ baru kita analisa, dan kemudian dirumuskan di sebelah mana yang ingin dikuatin.” tutur putra mantan cawapres Solahuddin Wahid tersebut.

Mengambil contoh PKS yang menjadi kliennya, Ipang menjelaskan sejak awal partai itu mengarah kepada pemilih pemula yang jumlahnya sekitar 34juta. Jumlah ini jelas potensi yang menggiurkan untuk mendongkrak perolehan suara. Maklum saja, dari perolehan sebesar 7%-8% dalam pemilu 2004, menurutnya, massa riil PKS sebenarnya hanya sekitar 4% dan sisanya merupakan massa yang mengambang yang sewaktu-waktu bisa berubah pilihan tergantung arah angin.

Setelah hasil temuan itu dianalisa, barulah mereka mulai merumuskan strategi komunikasi. Jalur apa yang ditempuh dan mana yang pas. Pada dasarnya setiap parpol memiliki pemilih loyal dengan ikatan emosional yang sangat kuat dan pemilih rasional. Menurut ipang yang paling penting sebenarnya adalah mengolah para pemilih rasional karena mereka bisa beralih sewaktu-waktu kalau parpol lain memberikan program yang lebih masuk akal.

Sementara untuk mengolah mindset target pemilih rasional, PKS berkali-kali menayangkan iklan pencitraan dengan pesan utama partai Islam tersebut sebagai partai yang bersih, peduli, dan professional. Versi terakhir yang sedang tayang bahkan mengambil endorser ABG cantik dan modis (jauh dari prototype kader PKS) yang berpesan agar audience memilih parpol yang memiliki track record bagus. Terlepas dari isi pesannya, pemilihan endorser ini langsung menjelaskan siapa target market yang mereka tuju.

Sumber : Majalah Mix Maret 2009, penulis ; Nurur R Bintara

Related files : 0 files